Skip to main content

Perjalanan Panjang Untuk Sebuah Diagnosa bagian II









Hingga suatu saat saya batuk cukup lama dan berobat di puskesmas kelurahan tempat saya tinggal. Ketika saya sedang diperiksa dokter, anak saya ikut masuk ke ruang periksa dan mulai “memeriksa” alat-alat kedokteran yang ada di ruangan. Tidak cukup dengan aksinya itu, Andra mulai menarik-narik tirai yang ada di ruang periksa. Dilalah tirai tersebut beserta relnya jatuh menimpa saya dan bu dokter. Untungnya bu dokter gak marah. Dia malah mengatakan kalau kemungkinan anak saya ADHD* dan menyarankan saya untuk memeriksakan Andra lebih lanjut menggunakan BPJS. “Emang bisa dok?” Kata saya. “Bisaaa” kata bu dokter sambil segera menulis surat rujukan untuk Andra ke Dokter Anak di  Fasilitas Kesehatan tingkat II* yang saya pilih. Bu dokter yang baik ini juga mengatakan “Bu kalau punya anak seperti ini memang repot bolak-balik terapi tapi jalani saja, anak saya juga ADHD”. Dari situ saya ke petugas BPJS yang ada di setiap puskesmas tersebut untuk dibuatkan formulir rujukannya.

Berbekal surat rujukan tersebut saya dan anak pergi ke sebuah Rumah Sakit Pemda yang ada di wilayah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Pagi-pagi saya sudah datang karena pendaftaran untuk pasien BPJS di RS ini cuma sampai jam 9 pagi. Di lobby ada petugas yang bertugas untuk memberikan nomor antrian lewat sebuah mesin untuk pengguna BPJS. Setelah mendapatkan nomor antrian kita tunggu nomor kita dipanggil untuk mengurus administrasi rumah sakit dan BPJS. Tapi kenyataan di Rumah Sakit ini masih mengurus administrasi dengan cara manual yaitu dengan menumpuk formulir rujukan dan KK (Kartu Keluarga) ke depan petugas, yang malah membuat antrian lebih lama. Setelah urusan rujukan dikonfirmasi baru keluar surat pendaftaran rawat jalan yang kemudian ditunjukan ke bagian administrasi rawat jalan untuk mendapatkan kartu pasien dan kartu status. Setelah itu baru kita menunggu didepan poliklinik anak. Antrian pagi ini cukup ramai. Sebelum masuk ke ruang dokter, suster akan mengukur berat dan tinggi anak, lalu menanyakan umur dan diagnosa sebelumnya.

Seperti biasanya di tempat umum Andra sering berlari kabur dari saya untuk memeriksa tempat lain atau mengamati lift dengan lama. Pagi itu sambil menunggu antrian dokter Andra mulai berlari mengitari seluruh poliklinik rawat jalan di lantai tersebut yang luasnya lebih besar dari lapangan bola basket, sambil terkadang tangannya mendorong pintu-pintu yang ada. Karena ulah anak saya tersebut, omelan orang lain sudah menjadi santapan pagi bagi saya. Setelah  menunggu cukup lama dan mengitari lantai poliklinik rawat jalan kira-kira 10 lap, barulah kami dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Andra yang habis berlari 10 lap langsung duduk manis di bangku plastik sambil senyum-senyum. Jadilah si bu dokter yang sudah agak sepuh ini mengatakan kalau Andra tidak apa-apa cuma disuruh mengurangi konsumsi coklat dan menonton TV.... 

Karena kurang puas dengan jawaban bu dokter yang sepuh itu, minggu depannya saya dan Andra balik lagi ke rumah sakit yang sama. Satu surat rujukan BPJS berlaku satu bulan. Walaupun sudah punya kartu kita tetap harus mengulang langkah yang sama sebelum bisa sampai ke ruang poliklinik rawat jalan. Yaitu ambil nomor antrian, lalu tunggu antrian dan menaruh surat rujukan di administrasi untuk mendapatkan formulir rawat jalan, lalu ke lantai 2 tukar formulir rawat jalan untuk kartu status berobat. (statusnya diantar oleh petugas langsung ke poliklinik). Baru kemudian  antri dipanggil ke ruang dokternya.

Kali ini Andra mungkin karena sudah hapal denah lantai 2 rumah sakit ini, jadi dia cuma berlari 2 atau 3 kali mengilingi ruang-ruang poliklinik rawat jalan. Kemudian yang dia lakukan adalah mengambil stempel suster dan mulai mengecap permukaan meja suster. Begitu dilarang dia langsung berlari sambil ketawa-tawa lalu guling-gulingan di lorong. Akhirnya setelah disogok susu uht barulah Andra bisa anteng hingga dipanggil masuk ke ruang dokter. Sebelumnya saya sudah minta suster supaya andra diperiksa oleh dokter yang lain.

Dokternya hari ini  laki-laki dan masih cukup muda. Pak dokter bertanya ke saya apa masalahnya Andra. Saya ceritakan saja apa adanya. Kemudian dia mengatakan kalau anak seperti Andra tidak perlu diterapi, tapi kemudian suster menceritakan kalau andra tadi sudah mencap seluruh permukaan meja suster, berlari-larian dan guling-gulingan di lorong. Pak dokter ingin bertanya langusng ke Andra, rupanya dia sudah kabur ke ruangan di belakang ruangan periksa, sambil “memeriksa” barang yang ada di ruangan itu. Pak dokter bertanya ke Andra “hei nama kamu siapa? Kamu dari planet mana?” Andra cuma senyum-senyum saja, lalu dia mulai lompat-lompat di tempat tidur periksa. Pak dokter mengatakan kalau di rumah sakit tersebut tidak ada klinik tumbuh kembang anak jadi harus dirujuk ke rumah sakit pusat yang ada di Salemba...(oh perjalanan makin jauh). Pak dokter yang berjenggot itu juga mengatakan sebenar Andra gak perlu diterapi dan menyarankan untuk di-ruqiyah.....

Berbekal penasaran dan udah setengah jalan, kami jabani juga rumah sakit pusat itu walau pun cukup jauh dari rumah. Kalau pertama kali datang kita harus mengantri di ruang pendaftaran umum yang ada di gedung peninggalan belanda dan antriannya.....cukup panjang. Tapi untuk selanjutnya tinggal datang ke ruang khusus pendaftaran BPJS yang fasad-nya berwarna oranye. Disini tidak perlu lama mengantri karena petugasnya banyak. Di RS ini Andra dirujuk ke Poliklinik Umum Ilmu Kesehatan Anak dengan diagnosa awal ADHD*. Rupanya poliklinik khusus anak menempati gedung baru, bagus, ac-nya dingin dan dindingnya dipenuhi oleh gambar-gambar dari karakter Disney.



Karena rumah sakit ini adalah RS penelitian dan pembelajaran buat calon dokter spesialis, jadi ada banyak dokter di tiap poliklinik. Di Poli IKA Andra diperiksa oleh seorang dokter yang terus berdikusi dengan sesama dokter lainnya. Dokter muda ini menguji pendengaran Andra dengan menggoyangkan lonceng, mengetuk-ngetuk persendian Andra untuk menguji refleknya dan mengajak Andra bicara serta bermain. Dari Poli IKA, Andra dirujuk lagi ke Poliklinik Pediatri Sosial dengan tulisan di lembar rujukannya suspect ADHD, Autisme, Delayed Speech*. Poliklinik ini menempati gedung yang sama dengan Poli IKA. Sekedar informasi pasien BPJS cuma bisa mendatangi satu poliklini dalam satu hari. Yang berarti kalau di rujuk ke poli lain datanglah lain hari juga. Kalau kami sih mendatanginya minggu selanjutnya.

Di Poli Pedsos, Andra diperiksa oleh seorang dokter di ruangan seperti aquarium, alias pengantar tidak ikut saat anak diperiksa oleh dokter tapi bisa melihat dari balik kaca. Di ruang aquarium ini dokter seolah-olah bermain dengan andra, ada banyak mainan edukasi di ruangan ini. Dari Poli PedSos Andra dirujuk lagi ke Poliklnik Jiwa Anak & Remaja. Tulisan diagnosa di lembar rujukannya adalah zoo8-Other general examination. Dokter Psikiater di poli inilah yang menentukan diagnosa akhirnya dan memberikan rujukan ke Poliklinik Rehabilitasi Medik untuk mendapatkan terapi.



Poliklinik Jiwa Anak & remaja berada di gedung lama satu lantai dengan ruang rehabilitasi medik dewasa, Poliklinik HIV dan Poliklinik kulit. Di poli ini saya bertemu dengan banyak anak lain yang tingkah polanya mungkin baru kali itu saya lihat. Beberapa yang saya ingat, ada anak laki-laki umur tiga tahunan yang terus bergerak memanjati kedua orangtuanya. Ada seorang anak perempuan usia sekolah dasar yang diam saja dan bergerak sangat pelan. Seorang remaja laki-laki dengan wajah khas yang terus menempati kursi suster. Dan seorang  seorang remaja laki-laki juga dengan penampilan rapi dan tampak seperti remaja umumnya. Saya sempat menguping pembicaraan antara dokter dan si remaja rapi ini ketika di ruang periksa, dia mengatakan kalau di kepalanya seperti selalu ada orang membisikan sesuatu. Selain itu juga ada dua anak laki seusia andra yang juga menunggu antrian dokter dengan ibu mereka. Sambil menunggu Andra bermain bersama mereka. Di poliklinik itu ada beberapa mainan dan buku yang digunakan para dokter psikatri sebagai alat bantu untuk mendiagnosa pasien.

Akhirnya tibalah Andra masuk ke ruang periksa. Di ruangan itu selain ada tempat tidur pasien juga ada bangku dan meja kecil beserta alat-alat gambar dan meja pasir dengan mainan. Dokter menyapa Andra dan saya, meminta Andra untuk menggambar dan memberikan lembaran quetioner untuk saya isi.  Isi quetioner sekitar prilaku anak. Setelah saya mengisinya, saya lalu diminta menunggu di luar ruang periksa. Setelah beberapa saat akhirnya saya dipanggil lagi untuk masuk ke ruang periksa. Saatnya penentuan... jeng-jeng. Bu psikiater ini mengatakan kalau Andra adalah anak dengan HFA (High Fungtioning Autism) lalu dokter mulai menerangkan apa itu HFA* (kelak saya akan menulis lebih lanjut tentang HFA). Intinya HFA adalah anak dengan ciri-ciri autis tapi mereka bisa berfungsi seperti anak normal lainnya dan mempunya IQ* sama atau lebih tinggi dari anak normal. Tapi tetap saja mendengar ada kata autism itu membuat hati saya seperti jatuh menggelinding 10 lantai. Apalagi kemudian bu dokter mengatakan andra perlu terapi fisik dan minum obat untuk fungsi syaraf di kepalanya. Kalau terapi fisik saya sudah siap tapi minum obaaat....”apa perlu dok?”. Bu dokter mengatakan kalau dia melihat Andra selalu bergerak, melompat-lompat dan memukul ibunya. Dia khawatir Andra tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri atau orang lain. Obat itu akan membuatnya lebih tenang, begitu kata bu dokter. Baiklah saya terima pendapatnya berikut resep obat dan lembar rujukan untuk poliklinik rehabilitasi medik. Kemudian saya ke apotik untuk ambil obat. Sepanjang perjalanan pulang saya banyak merenungi diagnosa psikiater tentang Andra. Saya merasa Andra belum perlu minum obat-obatan tertentu. Sesampainya di rumah obat itu simpan saja dan tidak saya minumkan ke Andra.

Minggu depannya saya dan Andra balik lagi ke rumah sakit pusat tersebut. Pendaftaran klinik rehab medik untuk dewasa dan anak-anak digabung sehingga ruang pendaftaran ramai sekali. Tapi ruang terapinya berbeda lantai. Saat itu kami datang bertiga dengan ibu saya yang sedang terapi syaraf kejepit disana. Ibu saya dipanggil lebih dulu untuk terapinya, sedangkan kami masih menunggu lebih lama lagi di ruang pendaftaran yang ada di lantai dasar gedung extension gedung lama. Disitu saya mulai mengamati beberapa pasien lainnya. Ada anak-anak dengan kesulitan berjalan yang sedang mencoba sepatu khusus untuk bantu berjalan. Ruang pembuatannya ada di lantai yang sama dengan ruang pendaftaran. Tapi kemudian saya mulai mengamati seorang anak perempuan usia berusia sekitar 8 tahun. Dia cantik dan berambut bagus. Begitu pun ibunya berpakaian bagus juga. Tapi seperti ada sesuatu dengan anak itu. Saya terus mengamatinya hingga akhirnya anak itu mendekati saya, tersenyum dan tangannya mulai meraba wajah saya. Matanyanya memandang ke arah mata saya tapi tatapannya...kosong. ibu anak tersebut pun segera meraihnya. Saya bertanya ke sang ibu, dia mengatakan kalau IQ anaknya sangat rendah. Hingga kini saya tidak bisa melupakan tatapan mata anak perempuan cantik tersebut.



saat kami untuk menunggu masuk ke ruang periksa dokter rehab medik, di depan ruang periksa saya bertemu seorang ibu dan anak gadisnya yang terus memakai masker dan diam saja. Tidak lama kemudian si Ibu mulai bercerita ke saya kalau anak gadisnya ADHD dan dia bisa diam karena minum obat penenang setiap hari, si Ibu juga bercerita kalau dia seorang orang tua tunggal yang harus menafkahi dan mengurus dua anak. Di sudut yang lain saya melihat tiga orang ibu usia baya menggendong anaknya masing-masing dengan kain jarik yang usianya sudah bukan balita lagi. Mereka sedang bercanda mengenai keadaan anak mereka. Dan seperti biasa Andra langsung menjelajahi ruangan lain. Secara tidak sengaja kami masuk ke ruangan yang seperti tempat main anak-anak di mall. Karena melihat banyak mainan kayu, Andra langsung mengambilnya dan mulai bermain. Ada beberapa wanita muda dan anak-anak usia balita. Saya lalu bertanya ke seorang wanita berkerudung. Rupanya dia seorang terapis dan mulai menerangnya terapi yang dia lakukan serta kondisi anak-anak yang di ruangan tersebut. Sekali lagi saya melihat keakraban ibu-ibu muda disitu, saling bercanda mengenai keadaan anak mereka. Padahal kondisi fisik anak-anak tersebut jauh dari kondisi anak normal, bahkan ada seorang anak yang mungkin usianya sudah 4 tahunan tapi dia hanya berbaring saja.

Jam sudah menunjukan waktu makan siang sudah lewat, saat Andra dipanggil masuk ke ruang periksa rehab medik. Ruang ini juga seperti tempat main anak-anak. Disitu ada beberapa dokter muda yang sedang memeriksa anak-anak lain. Andra kali di periksa oleh seorang dokter laki-laki muda yang sepertinya sedang lelah mungkin karena sudah hampir jam setengah 2 masih ada saja pasien. Si dokter mulai bertanya ke saya dan andra. Dan..waktu saya berkata belum meminumkan obat ke Andra dia mulai berbicara ke saya dengan nada tinggi. Salah satunya perkataannya “Yang lebih tahu ibu atau saya? Kalau ibu tidak meminumkan obat ke Andra, saya tidak bisa memberikan terapi !”. lalu dia mulai menceramahi saya. Untungnya dia juga memberikan beberapa tips bagaimana menangani Andra. Lalu dia memberikan setumpuk kertas yang isinya hasil quetioner kondisi fisik dan psikologi seorang anak lain.

Sepulangnya ke rumah saya tidak juga meminumkan obat yang diresepkan untuk Andra. Kalau saya pikir-pikir proses diagnosa Andra mulai dari puskesmas, RSUD, RSUP, rujukan ke banyak poliklinik, cukup merepotkan. Dari bulan maret ke bulan juni 2015. Apalagi saya belum sreg kalau Andra harus minum obat. Saya jadi berniat untuk membawa andra terapi ke klinik tumbuk kembang swasta saja. Walaupun begitu saya mendapatkan banyak pelajaran dari proses yang merepotkan ini.

bersambung....


teks dan foto oleh malahayati












Comments

AWK said…
Mala...aku ada teman akrab di smrg,anaknya beliau dulu autis tp beliau pegang sendiri untuk terapi anaknya dan berkorban berhenti kerja.Akhirnya Anaknya saat SD bisa masuk sekolah umum loh gabung dgn anak normal lain,sekarang anaknya baru tamat SMA, malah jurusannya pun IPA.Ente bisa coba konsultasi cara beliau terapi anaknya yang Autis tersebut.Kalau dengar cerita nya aku salut banget loh...perjuangan nya untuk megang sendiri anaknya.jaman dulu autis itu masih jarang pengobatannya tp beliau termasuk sukses dan pernah di minta berbagi pengalaman acara acara ttg autisme.
malahayati said…
syukron asna, aku keep dulu infonya ya

Popular posts from this blog

TERAPI GRATIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DENGAN BPJS

TERAPI GRATIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DENGAN BPJS Anak Berkebutuhan Khusus atau yang disingkat ABK membutuhkan beberapa terapi yang berguna untuk mengembangkan kemampuan fisik dan sosialnya agar bisa tumbuh seperti anak kebanyakan. Bagi orang tua yang memiliki ABK tentu mengetahui kalau biaya yang diperlukan untuk terapi tidaklah sedikit. Untuk terapi baku seperti Terapi Wicara, Sensory Integrasi dan Okupasi, membutuhkan biaya antara Rp85.000 hingga Rp350.000 tergantung tempat terapinya, bisa di klinik tumbuh kembang anak, rumah sakit swasta ataupun rumah sakit negeri. Terapi tersebut tidaklah cukup satu atau dua kali saja. Minimal si ABK membutuhkan satu paket terapi (biasanya 10 kali) hingga tahunan. Dan bagi banyak orang tua tentu biaya terapi tersebut cukup memberatkan. Apalagi (dari penelusuran saya di internet) perusahaan asuransi swasta umumnya tidak menanggung Anak Berkebutuhan Khusus yang didiagnosa Austisme atau Down Syndrome karena dianggap buk...