Setelah Andra didiagnosa HFA saya tidak langsung memberi tahu suami, karena sebelumnya antara suami dan saya belum sepakat mengenai keadaan Andra. Dan saya masih ingin mencari pendapat dari ahli lain. Saya berpikir untuk membawa Andra menemui seorang dokter anak di kota Bandung. Dokter ini terkenal karena menangani dan mendiagnosa anak berkebutuhan khusus secara tepat. Tapi saya masih mengumpulkan dana untuk pergi kesana. Hingga sepertinya suami saya menyadari dan mengalami sendiri kalau anaknya berkembang berbeda dari anak-anak umumnya. antara lain mungkin dia melihat Andra begitu takut terhadap bunyi petasan dan kembang api seperti saat bulan puasa tahun lalu. Apabila Andra mendengar bunyi-bunyian seperti itu dia langsung berteriak sambil menutupi kupingnya. Kemudian dia akan bersembunyi di kamar tidur setelah sebelumnya menutup pintu dan jendela, sambil guling-gulingan di kasur karena begitu takutnya. Kira-kira setelah Idul Fitri 2015 barulah saya...
Hingga suatu saat saya batuk cukup lama dan berobat di puskesmas kelurahan tempat saya tinggal. Ketika saya sedang diperiksa dokter, anak saya ikut masuk ke ruang periksa dan mulai “memeriksa” alat-alat kedokteran yang ada di ruangan. Tidak cukup dengan aksinya itu, Andra mulai menarik-narik tirai yang ada di ruang periksa. Dilalah tirai tersebut beserta relnya jatuh menimpa saya dan bu dokter. Untungnya bu dokter gak marah. Dia malah mengatakan kalau kemungkinan anak saya ADHD* dan menyarankan saya untuk memeriksakan Andra lebih lanjut menggunakan BPJS. “Emang bisa dok?” Kata saya. “Bisaaa” kata bu dokter sambil segera menulis surat rujukan untuk Andra ke Dokter Anak di Fasilitas Kesehatan tingkat II* yang saya pilih. Bu dokter yang baik ini juga mengatakan “Bu kalau punya anak seperti ini memang repot bolak-balik terapi tapi jalani saja, anak saya juga ADHD”. Dari situ saya ke petugas BPJS yang ada di setiap puskesmas tersebut untuk dibuatkan f...