Skip to main content

Perjalanan Panjang Untuk Sebuah Diagnosa bagian 1






Dari anak saya belum genap dua tahun, saya mulai menyadari kalau anak saya Andra berkembang sedikit berbeda dari anak-anak seumurannya. Dia belum berbicara menggunakan bahasa ibunya, yang keluar dari mulutnya seperti bahasa dari planet lain. Kalau dipanggil cuek saja. Dan dia sering berlari bolak-balik, tangannya flappling, dan keluar ocehan-ocehan yang tidak saya pahami seolah-olah dia bermain dengan bayangannya sendiri hingga waktu lama. Tapi Andra bisa berinteraksi dengan baik dan mempunyai ingatan yang sangat tajam.

Lalu saya konsultasikan anak saya ke seorang Psikolog Anak yang masih kerabat saya. Psikolog tersebut mendiagnosa anak saya PDDNOS* dan tidak membutuhkan terapi lebih lanjut. Menurutnya yang dibutuhkan Andra adalah disiplin waktu dan rutinitas yang pasti. Saya coba terapkan, walaupun saya bukan tipe orang yang disiplin heheheh

Ketika Andra berumur 3 tahun, kami orang tuanya memutuskan untuk memasukan andra ke Kelompok Bermain yang ada di sebuah sekolah islam terpadu dekat rumah (dengan tujuan supaya bisa bersosialisasi, dan saya bisa kembali bekerja). Masuknya cuma seminggu 3 kali dari jam 8 hingga jam 11 siang. Dari umur 3 tahun lah kendala dalam perkembangannya makin terlihat bagi saya. Andra masih berbicara dengan bahasa planet lain. Dia suka berteriak-teriak dan menjatuhkan barang-barang. Selain itu dia juga suka keluar dari kelasnya dan masuk ke kelas-kelas yang lain. Hingga gurunya memutuskan kalau Andra belum bisa mengikuti kelas TK A walau pun sudah berumur 4 tahun. 

Akhirnya saya membawa lagi andra ke seorang dokter anak yang cukup terkenal, beliau juga mengatakan hal yang sama, yaitu PDDNOS dan tidak perlu terapi. Pak Dokter menyarankan Andra tidak perlu sekolah dulu dan sering-sering diajak jalan-jalan. Dari sinilah saya mendapatkan ide untuk merekam perkembangan andra melalui foto telepon seluler dan mengunggahnya ke Instagram. Foto-fotonya bisa dilihat di @dyamalahayati atau #OTRwithmyson


Hand Flapping kadang ia lakukan juga apabila sedang semangat dengan sesuatu


Tapi sebenarnya semenjak andra berumur 3 hingga menjelang 5 tahun adalah masa “terlasak”nya andra. Banyak kendala sosial yang kami hadapi semasa ini. Sikap Andra yang tidak terduga saat diluar rumah menghasilkan banyak cerita lucu maupun sedih. Salah satunya adalah dia suka masuk ke rumah siapa saja yang pintunya terbuka. Banyak yang tidak mempermasalahkannya tapi banyak juga yang menolak kami dengan cara tidak halus. Keingintahuan Andra yang luar biasa membuatnya menjadi anak yang sangat geratak dimana pun dia berada. Hal ini menimbulkan rasa tidak enak ketika kami bertandang ke kantor atau pun rumah kerabat. Ditegur bahkan diusir oleh petugas keamanan suatu tempat bukanlah hal yang baru bagi kami. Belum lagi ketika di Mall dia suka kabur begitu saja dari saya, hingga saya harus berlari-lari untuk mengejarnya. Namun yang bikin hati saya terpelintir adalah ketika melihat Andra disisihkan oleh anak-anak seumurannya di lingkungan rumah kami. Andra punya keinginan untuk bermain dengan anak-anak lainnya. Tapi karena dia belum berbicara layaknya anak-anak seumurnya dan Andra juga selalu bergerak kesana kemari membuat anak-anak itu menganggap Andra aneh dan menjauhkannya. Susah hilang dari ingatan saya ketika dua kali melihat Andra menangis guling-gulingan didepan rumah orang karena tidak dikasih main oleh sekumpulan anak, sedangkan anak-anak itu menatap Andra dengan tatapan aneh.

terosesi dengan lift. Andra bisa mengamati lift lama sekali


Karena kendala-kendala sosial itulah mendorong saya untuk mencari tahu sebenarnya apa yang salah dari Andra, dan apakah dia bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya. Penulusuran di Internet malah membuat saya tambah bingung. Beragam ciri-ciri gangguan perkembangan anak bisa dikaitkan dengan Andra, mulai dari Autism, ADHD, hingga Dissincronized Gifted*. Satu hal yang pasti adalah saya merasa anak saya membutuhkan terapi tertentu agar dia bisa tumbuh lebih baik. Permasalahan lainnya adalah biaya diagnosa dan terapi di klinik tumbuh kembang anak bagi saya yang ibu rumah tangga cukup memberatkan. 

Comments

Unknown said…
Semangat mom .... Andra kiss kiss big hug....
malahayati said…
makasih bunda alif, kangen alif nih
Unknown said…
Salut dgn semangat Sang Bunda dan Andra yg hebat. Sdh seharusnya Negara atau Yayasan yg peduli memerhatikan dgn kasih sayangnya thd anak macam Andra. Ruang sosial lah yg biasanya menjadi ujian, tetap tegar n semangat, Bunda.
malahayati said…
terima kasih mas Wakhid

Popular posts from this blog

TERAPI GRATIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DENGAN BPJS

TERAPI GRATIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DENGAN BPJS Anak Berkebutuhan Khusus atau yang disingkat ABK membutuhkan beberapa terapi yang berguna untuk mengembangkan kemampuan fisik dan sosialnya agar bisa tumbuh seperti anak kebanyakan. Bagi orang tua yang memiliki ABK tentu mengetahui kalau biaya yang diperlukan untuk terapi tidaklah sedikit. Untuk terapi baku seperti Terapi Wicara, Sensory Integrasi dan Okupasi, membutuhkan biaya antara Rp85.000 hingga Rp350.000 tergantung tempat terapinya, bisa di klinik tumbuh kembang anak, rumah sakit swasta ataupun rumah sakit negeri. Terapi tersebut tidaklah cukup satu atau dua kali saja. Minimal si ABK membutuhkan satu paket terapi (biasanya 10 kali) hingga tahunan. Dan bagi banyak orang tua tentu biaya terapi tersebut cukup memberatkan. Apalagi (dari penelusuran saya di internet) perusahaan asuransi swasta umumnya tidak menanggung Anak Berkebutuhan Khusus yang didiagnosa Austisme atau Down Syndrome karena dianggap buk...