Setelah Andra didiagnosa HFA saya tidak langsung memberi tahu suami, karena sebelumnya antara suami dan saya belum sepakat mengenai keadaan Andra. Dan saya masih ingin mencari pendapat dari ahli lain. Saya berpikir untuk membawa Andra menemui seorang dokter anak di kota Bandung. Dokter ini terkenal karena menangani dan mendiagnosa anak berkebutuhan khusus secara tepat. Tapi saya masih mengumpulkan dana untuk pergi kesana.
Hingga sepertinya suami saya menyadari
dan mengalami sendiri kalau anaknya berkembang berbeda dari anak-anak umumnya.
antara lain mungkin dia melihat Andra begitu takut terhadap bunyi petasan dan
kembang api seperti saat bulan puasa tahun lalu. Apabila Andra mendengar bunyi-bunyian
seperti itu dia langsung berteriak sambil menutupi kupingnya. Kemudian dia akan
bersembunyi di kamar tidur setelah sebelumnya menutup pintu dan jendela, sambil
guling-gulingan di kasur karena begitu takutnya.
Kira-kira setelah Idul Fitri 2015
barulah saya memberi tahu suami saya apa yang didiagnosakan psikiater di rumah
sakit pusat itu mengenai Andra, dan suami saya akhirnya sepakat dengan saya mengenai kondisi
anak kami. kegundahan saya mengenai Andra selama tiga tahun belakangan ini
seolah-olah terangkat 90% saat suami saya menerima diagnosa Andra. Suami saya
berniat untuk membawa Andra terapi di klinik tumbuh kembang dengan biaya
sendiri. Dan kami juga sepakat untuk tidak memberikan obat kepada Andra.
Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kami
memutuskan untuk membawa Andra ke rumah sakit Ibu dan anak yang ada di daerah
Tomang. Berangkatlah saya berdua Andra menggunakan bis Transjakarta. Walaupun
jaraknya cukup jauh bagi kami tapi kami tidak perlu ganti bis. Sesampainya
disana kami langsung menuju ke poliklinik tumbuh kembang anak yang berada
dibagian belakang gedung utama. Ternyata fasilitasnya cukup bagus. Disana
terdapat semacam tempat out door yang
digunakan untuk terapi anak-anak. Karena sudah siang, pas kami kesana sedang
tidak ada yang terapi. Lalu saya bertanya ke petugas admistrasi yang ada di
poli itu. Dia mengatakan kalau untuk observasi dokter dan terapi dengan biaya
sendiri harus bikin janji terlebih dahulu. Lalu ibu petugas itu mengatakan ke
saya “bu kalau untuk terapi anak berkebutuhan khusus lebih baik pakai BPJS
saja, karena biasanya terapinya cukup lama”.
![]() |
| ankoters. kita kemana-kemana naik angkutan umum |
Akhirnya sekitar awal tahun ini kami
kembali mendatangi puskesmas, namun kali ini di puskesmas kecamatan tempat saya
tinggal. Puskesmas ini menempati gedung baru tiga lantai, ac-nya dingin dan
tempat main untuk anak-anak. Saat ini puskesmas yang ada di kecamatan tidak
hanya buka pagi hari saja, tapi 24 jam. Dan dokternya juga sekarang ada hingga
malam hari. Saya datang kesana sekitar jam 2 siang, karena sepi saya bisa
langsung ketemu dokter. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mendapatkan
surat rujukan ke sebuah rumah sakit milik pemerintah di daerah cawang. surat
itu langsung dibawa ke petugas BPJS yang ada di puskesmas tersebut. Lalu
petugas mendaftarkan waktu kunjungan kami ke poliklinik RSUD tersebut secara
online. Saya minta hari jum’at jam setengah 11 siang.
Lalu datanglah kami ke RSUD sesuai hari
yang didaftarkan. Sesampainya disana jam 10 pagi kami langsung bertanya ke
petugas yang berjaga di mesin pendaftaran. Si petugas mengatakan kalau sudah
didaftarkan online bisa langsung print lembaran pendaftaran rawat jalan di
mesin print yang disediakan. Eeh berhubungan mesin lagi error akhirnya saya
bertanya ke petugas costumer service. Petugas wanita itu dengan cetakan
langsung mengurus pendaftaran saya ke ke poliklinik anak. Jadinya kami tidak
perlu antri pendaftaran pasien baru. Tinggal buat kartu pasien dan langsung
menunggu di ruangan poli anak.
Poli anak ada di sudut tersendiri,
menempati gedung lama dari RSUD ini. Ruangannya seperti sudah tidak sanggup
menampung antrian dari pasien-pasien cilik yang datang kemari ditemani satu
hingga tiga orang pengantar. Suara tangisan bercampur dengan teriakan dan gelak
tawa dari bayi hingga anak-anak yang ada disana. Sesampainya di ruangan ini
saya langsung antri untuk memberikan kertas pendaftaran rawat jalan ke suster.
Lalu tunggu dipanggil untuk diukur tinggi dan berat, serta kondisi si anak.
Sambil menunggu saya dan Andra duduk dan
mulai mengamati keadaan sekitar. Andra mulai menempeli seorang anak seusianya
yang lagi sibuk main Tab. Saya mulai mengobrol dengan seorang ibu yang membawak
anak laki-laki usia kira-kira 9 tahun. Anak tersebut berprilaku seperti waktu Andra
usia 3 tahun. Selalu ingin kabur dan berteriak-teriak sehingga si Ibu harus
siap siaga memegangi anaknya. Si Ibu yang ramah ini mulai bercerita kalau
kepala anaknya habis di-scan dan akan memberikan hasilnya ke dokter.
Akhirnya saatnya Andra masuk ke ruang
dokter. Waktu menunjukan sudah jam setengah satu siang. Dokter anaknya seorang
wanita berkerudung panjang, meskipun terlihat lelah dia tetap menyapa kami
dengan ramah. Tanpa berlama-lama dia langsung menanyakan kondisi andra dan
mulai mengajak Andra bicara. Lalu dokter tersebut mengatakan kemungkinan Andra
ADHD tapi yang menentukan diagnosanya adalah dokter psikiater. Jadi Andra
dirujuk lagi poliklinik psikiatri.
Minggu depannya kami baru datang lagi ke
RSUD ini. Kali ini kami hanya perlu men-scan kartu pasien di mesin pendataran,
lalu data pasien dan poliklinik yang dituju tampil di layar, tunggu mesin print
mencetak kertas pendaftaran rawat jalan dan tinggal duduk manis di depan
poliklinik yang dituju. Antrian poliklinik psikiatri cuma sedikit, jadi kami
tidak perlu menunggu lama untuk masuk ruang dokter.
Dokternya seorang wanita cantik berwajah
oriental dengan potongan rambut mutakhir yang mengingatkan saya pada tokoh
utama di drama jepang Dokter X. Si dokter langsung mengamati andra dan bertanya
perihal kondisi Andra. Dokter psikiater ini juga mendiagnosa kalau Andra HFA
(High Funtioning Autisme) dan bisa belajar di sekolah umum. Lalu dokter ini
mengatakan kalau dia cuma bisa meresepkan obat ke Andra dan mulai menerangkan apa
itu HFA serta pengaruh obat yang dia resepkan untuk anak HFA. Dia juga
menjelaskan kalau kebiasaan Andra berlari bolak-balik hingga waktu lama adalah
hal yang organik, otomatis Andra lakukan seperti orang yang punya kebiasaan
menggoyang-goyangkan kaki atau mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Lalu saya
bilang “dok, kalau saya gak mau andra minum obat gimana?” dan dokter itu
mengatakan “Gak apa-apa kalau ibu gak mau, karena sepertinya Andra sekarang
sudah bisa tenang”. Yesss. (kata saya dalam hati). Akhirnya bu dokter x ini merujuk
Andra ke poliklinik rehab medik untuk mendapatkan terapi disana. Terus terang
saya cukup senang dengan dua dokter yang sudah kami temui di rumah sakit ini.
Mereka berdua mau menerima pendapat dari keluarga pasien dan memberikan
informasi yang cukup apabila ditanyakan.
Kami baru mendatangi poliklinik rehab
medik minggu selanjutnya. Poliklinik ini ada di lantai dua gedung lama rumah
sakit ini. Dokternya cuma ada satu baik untuk pasien rehab medik dewasa maupun
anak-anaj. Jadi antriaannya silahkan anda bersabar. Semoga saja dokter di poliklinik ini bisa
ditambah karena terus terang mayoritas pasiennya adalah bayi,balita, anak-anak
dan orang lanjut usia. Yang kalau dikumpulkan satu ruangan tidak cocok. Karena
pasiennya begitu banyak, petugas administrasi, terapis dan dokternya berusaha
menetapkan sistem tertentu dengan tujuan bisa mempermudah kerja mereka. Jadi ya
kita coba ikuti saja. Dokter rehab medik pun berusaha menggunakan waktu
seefektif mungkin dalam mendiagnosa pasiennya. Ketika giliran andra diperiksa,
dia langsung bertanya kondisi Andra dan menanyakan apakah diresepkan obat oleh
dokter psikiater. Ketika saya bilang tidak, dia langsung meresepkan untuk
terapi wicara dan okupasi masing seminggu sekali. Setelah itu kami diberi
lembaran formulir jadwal terapi oleh petugas administrasinya, yang nanti akan
ditandatangani oleh terapisnya tiap sesi terapi yang dilakukan. Satu paket
terapi ada 10 sesi, yang apabila paket ini sudah selesai akan dievaluasi lagi
oleh terapis dan juga dokter untuk menentukan apakah si anak lanjut atau sudah
cukup terapinya.
Selanjutnya tiap jadwal terapi, kami
cukup mendaftar via mesin pendaftaran, dan bisa langsung menunggu di tempat
terapi. Tempatnya sendiri ada di gedung baru dengan lorong terpisah ruangan
lain, tapi berdekatan dengan poli penyakit dalam dan syaraf. Ruangan untuk
terapi anak-anak cukup bagus dengan Ac dingin dan pencahayaan yang juga cukup.
Ada ruangan masing-masing untuk terapi wicara, tumbuh kembang, sensori
integrasi dan okupasi. Di ruang tengah tempat terapi ada juga alat-alat yang
digunakan oleh orang dewasa, tapi mereka lebih banyak diterapi di poli rehab
medik yang berada di gedung lama. Terapis-terapisnya juga ada beberapa orang,
mereka ramah dan informatif. Setiap selesai terapi mereka menjelaskan ke orang
tua serta juga menuliskan di buku apa saja yang tadi dilakukan terus
saran-saran untuk dilakukan di rumah.
Di tempat terapi ini kita bertemu dengan
macam-macam anak. Dari yang cuma telat wicara, telat berjalan, autisme, ADHD,
down syindrome, hingga tuna ganda. Mereka semua lucu dan indah dengan cara
mereka sendiri. Ada anak laki-laki batita laki-laki dengan down syndrome yang
suka menjahili anak lain ada juga remaja perempuan dengan tuna ganda yang
selalu minta didandani setelah selasai terapi. Andra sendiri suka berlari
bolak-balik di lorong yang kemudian diikuti oleh anak-anak lainnya. Kelakuan
mereka tentu saja membuah heboh lorong tersebut.
Para ibu pengantar anak-anak mereka
dengan mudah terlibat percakapan satu sama lain. Saling curhat dan diskusi.
Pernah ada seorang ibu muda pekerja yang bisa curhat begitu saja ke saya dengan
berlinang air mata sambil menceritakan kondisi anaknya yang tidak jauh berbeda
dari Andra. Hehehe i’m not alone
rupanya. Kami semua para orang tua sama-sama gundah dan juga berikhtiar untuk
anak kita
Sudah dua tahun lebih semenjak saya
membawa mulai membawa Andra ke berbagai dokter, psikolog dan psikiater. Saya
menerima diagnosa yang dilabelkan psikiater ke Andra tapi saya bukan berarti
saya bulat-bulat berpegang ke label tersebut. kemungkinan lain selalu ada. bagi
saya diagnosa HFA hanya memberikan saya
semacam “manual guide” untuk bisa memahami Andra dan bagaimana membuat tumbuh
kembangnya lebih baik. Begitu pun dengan terapi yang dilakukan Andra. Terapi
yang dilakukan di poliklinik cuma sekitar 50 menit. Saran dari terapis lah yang saya dan bapaknya
Andra coba terapkan di rumah. Saat ini bapaknya Andra sudah berhenti bekerja
dan membuat usaha furnitur lawas di rumah. Anda bisa melihat produknya di
Instagram @dyma-vintage (iklan dikit hehehehe). Karena bapaknya sekarang di
rumah dari jadi kami bisa sama-sama melatih andra untuk berkomunikasi dan
bersikap yang baik setiap hari, bermain bersamanya dan membiarkan andra ikut
melakukan kegiatan kami sehari-hari di rumah.
Banyak hikmah yang saya ambil selama
proses mendapatkan diagnosa untuk Andra. Yang pertama adalah kondisi Andra
sangat ringan dibandingkan dengan anak-anak lain yang saya temuin di RSUP
ataupun RSUD tempat terapi sekarang. Setiap kali melihat mereka, mengingatkan
saya untuk harus bersyukur kepada yang maha kuasa. Kedua, saya bertemu banyak
ibu yang luar biasa. Bagaimana mereka harus mengurus anaknya yang berkebutuhan
khusus sambil terus mengurus rumah tangga dan mencari nafkah. Ketiga, bertemu
dengan sesama ibu di tempat terapi bisa saling curhat melegakan hati saya. Dan
saya tahu, yess, berarti selama ini perasaan saya tidak berlebihan ada ibu-ibu
lainnya yang seperti saya. Saya pernah cerita ke beberapa kawan, mereka cuma
mengangap saya drama dan mengatakan kalau Andra cuma kurang main saja. (mungkin
karena saya bukan bff mereka kalii)
Kalau bertemu dengan Andra, mungkin anda
tidak akan mengira kalau dia didiagnosa High fungtioning autisme. Dalam 9 bulan
ini Andra berkembang dengan baik apalagi kemampuan komunikasinya berkembang
sangat pesat. sekarang dia bisa menyampaikan apa yang dia rasakan dan alami.
Saya ingat bagaimana dulu hingga umur 3 tahun kata-kata yang keluar dari
mulutnya adalah “cikucikkucik, “kucuk-kucuk” dan bahasa planet lainnya. Ketika
andra berumur 4 tahun dia mulai mengucapkan satu dua kata dan dicampur dengan
kata-kata yang di ciptakan sendiri. Hingga suatu saat ketika andra baru
menginjak 5 tahun, terbangun dari tidurnya dengan saya disampingnya, tiba-tiba
Andra mengatakan “ ma.. aku sayang”... saya bertanya “sayang siapa?” Andra :
“aku sayang mama”. Rasanya saat itu juga hati saya terasa sangat ringan dan
bahagia.
Yang juga membuat saya makin senang adalah
saat ini Andra sudah bisa tenang. Saya tidak perlu lagi berlari-lari mengejar
andra di tempat umum. Andra sudah jarang sekali masuk ke rumah orang asing, dan
tidak segeratak dulu, karena saat ini dia sudah bisa dibilangin saat melakukan
sesuatu yang kurang baik. Dan yang paling membuat saya senang adalah saat ini
Andra sudah mulai bisa berteman yeey. Memang dia belum bisa bermain seperti
anak-anak laki-laki seumurnya seperti main bola bersama atau bermain sepeda,
tapi saat ini Andra mulai menunjukan minat lagi untuk bermain dengan anak lain.
Semenjak ditolak oleh beberapa anak, Andra memang belum bisa mengatakan kalau
dia kecewa atau sedih, tapi saat melihat anak-anak itu Andra bersikap
seolah-olah mereka tidak ada. Mungkin Andra tahu buat apa memaksakan diri untuk
berkawan dengan orang-orang yang tidak mau berkawan dengannya. Di kehidupan
orang dewasa saja kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang tidak mau
bergaul dengan kita karena alasan tertentu, mulai dari kondisi materi yang
berbeda, visi yang berbeda, atau waktu yang belum memungkinkan. Yang pasti
semenjak kejadian itu, setiap sore saya selalu membawa andra berjalan-jalan ke
tepat lain. Kadang kita berjalan 2 – 4 kilometer untuk melihat-lihat komplek
perumahan lain. Tapi ibuku mengatakan untuk memaksa Andra bermain dengan
anak-anak lain. “belajar sakit hati” begitu kata beliau. Lagipula pasti ada
anak-anak lain yang mau bermain dengannya. Dan memang benar selama kita bukan
orang jahat pasti kita akan mendapat teman yang lain.
Banyak pelajaran saya dapat dari Andra.
Sang Pencipta bukanlah kebetulan memberikan anak tertentu kepada orang tuanya.
Soal diagnosa yang diberikan dua dokter psikiater ke Andra....hmm...mereka
mendiagnosanya berdasarkan buku teks akademis. Tapi yang tahu sebenarnya
kondisi seorang anak adalah orang tuanya. Dan orangtua adalah sebaik-baiknya
terapis bagi anaknya. Cinta yang akan
menyembuhkan....
Teks dan foto : Malahayati
baca juga
terapi gratis anak berkebutuhan khusus
perjalanan panjang untuk sebuah diagnosa bagian I
perjalanan panjang untuk sebuah diagnosa bagian II
baca juga
terapi gratis anak berkebutuhan khusus
perjalanan panjang untuk sebuah diagnosa bagian I
perjalanan panjang untuk sebuah diagnosa bagian II




Comments