Hingga suatu saat saya batuk cukup lama
dan berobat di puskesmas kelurahan tempat saya tinggal. Ketika saya sedang
diperiksa dokter, anak saya ikut masuk ke ruang periksa dan mulai “memeriksa”
alat-alat kedokteran yang ada di ruangan. Tidak cukup dengan aksinya itu, Andra
mulai menarik-narik tirai yang ada di ruang periksa. Dilalah tirai tersebut beserta
relnya jatuh menimpa saya dan bu dokter. Untungnya bu dokter gak marah. Dia
malah mengatakan kalau kemungkinan anak saya ADHD* dan menyarankan saya untuk
memeriksakan Andra lebih lanjut menggunakan BPJS. “Emang bisa dok?” Kata saya. “Bisaaa”
kata bu dokter sambil segera menulis surat rujukan untuk Andra ke Dokter Anak
di Fasilitas Kesehatan tingkat II* yang
saya pilih. Bu dokter yang baik ini juga mengatakan “Bu kalau punya anak
seperti ini memang repot bolak-balik terapi tapi jalani saja, anak saya juga
ADHD”. Dari situ saya ke petugas BPJS yang ada di setiap puskesmas tersebut
untuk dibuatkan formulir rujukannya.
Berbekal surat rujukan tersebut saya dan
anak pergi ke sebuah Rumah Sakit Pemda yang ada di wilayah Pasar Rebo, Jakarta
Timur. Pagi-pagi saya sudah datang karena pendaftaran untuk pasien BPJS di RS
ini cuma sampai jam 9 pagi. Di lobby ada petugas yang bertugas untuk memberikan
nomor antrian lewat sebuah mesin untuk pengguna BPJS. Setelah mendapatkan nomor
antrian kita tunggu nomor kita dipanggil untuk mengurus administrasi rumah
sakit dan BPJS. Tapi kenyataan di Rumah Sakit ini masih mengurus administrasi
dengan cara manual yaitu dengan menumpuk formulir rujukan dan KK (Kartu
Keluarga) ke depan petugas, yang malah membuat antrian lebih lama. Setelah
urusan rujukan dikonfirmasi baru keluar surat pendaftaran rawat jalan yang
kemudian ditunjukan ke bagian administrasi rawat jalan untuk mendapatkan kartu
pasien dan kartu status. Setelah itu baru kita menunggu didepan poliklinik anak.
Antrian pagi ini cukup ramai. Sebelum masuk ke ruang dokter, suster akan
mengukur berat dan tinggi anak, lalu menanyakan umur dan diagnosa sebelumnya.
Seperti biasanya di tempat umum Andra
sering berlari kabur dari saya untuk memeriksa tempat lain atau mengamati lift
dengan lama. Pagi itu sambil menunggu antrian dokter Andra mulai berlari
mengitari seluruh poliklinik rawat jalan di lantai tersebut yang luasnya lebih
besar dari lapangan bola basket, sambil terkadang tangannya mendorong
pintu-pintu yang ada. Karena ulah anak saya tersebut, omelan orang lain sudah
menjadi santapan pagi bagi saya. Setelah
menunggu cukup lama dan mengitari lantai poliklinik rawat jalan
kira-kira 10 lap, barulah kami dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Andra
yang habis berlari 10 lap langsung duduk manis di bangku plastik sambil
senyum-senyum. Jadilah si bu dokter yang sudah agak sepuh ini mengatakan kalau
Andra tidak apa-apa cuma disuruh mengurangi konsumsi coklat dan menonton
TV....
Karena kurang puas dengan jawaban bu
dokter yang sepuh itu, minggu depannya saya dan Andra balik lagi ke rumah sakit
yang sama. Satu surat rujukan BPJS berlaku satu bulan. Walaupun sudah punya
kartu kita tetap harus mengulang langkah yang sama sebelum bisa sampai ke ruang
poliklinik rawat jalan. Yaitu ambil nomor antrian, lalu tunggu antrian dan
menaruh surat rujukan di administrasi untuk mendapatkan formulir rawat jalan,
lalu ke lantai 2 tukar formulir rawat jalan untuk kartu status berobat.
(statusnya diantar oleh petugas langsung ke poliklinik). Baru kemudian antri dipanggil ke ruang dokternya.
Kali ini Andra mungkin karena sudah
hapal denah lantai 2 rumah sakit ini, jadi dia cuma berlari 2 atau 3 kali
mengilingi ruang-ruang poliklinik rawat jalan. Kemudian yang dia lakukan adalah
mengambil stempel suster dan mulai mengecap permukaan meja suster. Begitu
dilarang dia langsung berlari sambil ketawa-tawa lalu guling-gulingan di
lorong. Akhirnya setelah disogok susu uht barulah Andra bisa anteng hingga
dipanggil masuk ke ruang dokter. Sebelumnya saya sudah minta suster supaya
andra diperiksa oleh dokter yang lain.
Dokternya hari ini laki-laki dan masih cukup muda. Pak dokter
bertanya ke saya apa masalahnya Andra. Saya ceritakan saja apa adanya. Kemudian
dia mengatakan kalau anak seperti Andra tidak perlu diterapi, tapi kemudian
suster menceritakan kalau andra tadi sudah mencap seluruh permukaan meja
suster, berlari-larian dan guling-gulingan di lorong. Pak dokter ingin bertanya
langusng ke Andra, rupanya dia sudah kabur ke ruangan di belakang ruangan periksa,
sambil “memeriksa” barang yang ada di ruangan itu. Pak dokter bertanya ke Andra
“hei nama kamu siapa? Kamu dari planet mana?” Andra cuma senyum-senyum saja,
lalu dia mulai lompat-lompat di tempat tidur periksa. Pak dokter mengatakan
kalau di rumah sakit tersebut tidak ada klinik tumbuh kembang anak jadi harus
dirujuk ke rumah sakit pusat yang ada di Salemba...(oh perjalanan makin jauh).
Pak dokter yang berjenggot itu juga mengatakan sebenar Andra gak perlu diterapi
dan menyarankan untuk di-ruqiyah.....
Berbekal penasaran dan udah setengah
jalan, kami jabani juga rumah sakit pusat itu walau pun cukup jauh dari rumah.
Kalau pertama kali datang kita harus mengantri di ruang pendaftaran umum yang
ada di gedung peninggalan belanda dan antriannya.....cukup panjang. Tapi untuk
selanjutnya tinggal datang ke ruang khusus pendaftaran BPJS yang fasad-nya berwarna oranye. Disini tidak
perlu lama mengantri karena petugasnya banyak. Di RS ini Andra dirujuk ke
Poliklinik Umum Ilmu Kesehatan Anak dengan diagnosa awal ADHD*. Rupanya
poliklinik khusus anak menempati gedung baru, bagus, ac-nya dingin dan
dindingnya dipenuhi oleh gambar-gambar dari karakter Disney.
Karena rumah sakit ini adalah RS
penelitian dan pembelajaran buat calon dokter spesialis, jadi ada banyak dokter
di tiap poliklinik. Di Poli IKA Andra diperiksa oleh seorang dokter yang terus
berdikusi dengan sesama dokter lainnya. Dokter muda ini menguji pendengaran
Andra dengan menggoyangkan lonceng, mengetuk-ngetuk persendian Andra untuk
menguji refleknya dan mengajak Andra bicara serta bermain. Dari Poli IKA, Andra
dirujuk lagi ke Poliklinik Pediatri Sosial dengan tulisan di lembar rujukannya suspect ADHD, Autisme, Delayed Speech*.
Poliklinik ini menempati gedung yang sama dengan Poli IKA. Sekedar informasi pasien
BPJS cuma bisa mendatangi satu poliklini dalam satu hari. Yang berarti kalau di
rujuk ke poli lain datanglah lain hari juga. Kalau kami sih mendatanginya
minggu selanjutnya.
Di Poli Pedsos, Andra diperiksa oleh
seorang dokter di ruangan seperti aquarium, alias pengantar tidak ikut saat
anak diperiksa oleh dokter tapi bisa melihat dari balik kaca. Di ruang aquarium
ini dokter seolah-olah bermain dengan andra, ada banyak mainan edukasi di
ruangan ini. Dari Poli PedSos Andra dirujuk lagi ke Poliklnik Jiwa Anak &
Remaja. Tulisan diagnosa di lembar rujukannya adalah zoo8-Other general examination. Dokter Psikiater di poli inilah
yang menentukan diagnosa akhirnya dan memberikan rujukan ke Poliklinik
Rehabilitasi Medik untuk mendapatkan terapi.
Poliklinik Jiwa Anak & remaja berada
di gedung lama satu lantai dengan ruang rehabilitasi medik dewasa, Poliklinik
HIV dan Poliklinik kulit. Di poli ini saya bertemu dengan banyak anak lain yang
tingkah polanya mungkin baru kali itu saya lihat. Beberapa yang saya ingat, ada
anak laki-laki umur tiga tahunan yang terus bergerak memanjati kedua
orangtuanya. Ada seorang anak perempuan usia sekolah dasar yang diam saja dan
bergerak sangat pelan. Seorang remaja laki-laki dengan wajah khas yang terus
menempati kursi suster. Dan seorang
seorang remaja laki-laki juga dengan penampilan rapi dan tampak seperti
remaja umumnya. Saya sempat menguping pembicaraan antara dokter dan si remaja
rapi ini ketika di ruang periksa, dia mengatakan kalau di kepalanya seperti
selalu ada orang membisikan sesuatu. Selain itu juga ada dua anak laki seusia
andra yang juga menunggu antrian dokter dengan ibu mereka. Sambil menunggu Andra
bermain bersama mereka. Di poliklinik itu ada beberapa mainan dan buku yang
digunakan para dokter psikatri sebagai alat bantu untuk mendiagnosa pasien.
Akhirnya tibalah Andra masuk ke ruang
periksa. Di ruangan itu selain ada tempat tidur pasien juga ada bangku dan meja
kecil beserta alat-alat gambar dan meja pasir dengan mainan. Dokter menyapa
Andra dan saya, meminta Andra untuk menggambar dan memberikan lembaran quetioner untuk saya isi. Isi quetioner sekitar prilaku anak. Setelah
saya mengisinya, saya lalu diminta menunggu di luar ruang periksa. Setelah
beberapa saat akhirnya saya dipanggil lagi untuk masuk ke ruang periksa.
Saatnya penentuan... jeng-jeng. Bu psikiater ini mengatakan kalau Andra adalah
anak dengan HFA (High Fungtioning Autism) lalu dokter mulai menerangkan apa itu
HFA* (kelak saya akan menulis lebih lanjut tentang HFA). Intinya HFA adalah
anak dengan ciri-ciri autis tapi mereka bisa berfungsi seperti anak normal
lainnya dan mempunya IQ* sama atau lebih tinggi dari anak normal. Tapi tetap
saja mendengar ada kata autism itu membuat hati saya seperti jatuh
menggelinding 10 lantai. Apalagi kemudian bu dokter mengatakan andra perlu
terapi fisik dan minum obat untuk fungsi syaraf di kepalanya. Kalau terapi
fisik saya sudah siap tapi minum obaaat....”apa perlu dok?”. Bu dokter
mengatakan kalau dia melihat Andra selalu bergerak, melompat-lompat dan memukul
ibunya. Dia khawatir Andra tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri atau
orang lain. Obat itu akan membuatnya lebih tenang, begitu kata bu dokter.
Baiklah saya terima pendapatnya berikut resep obat dan lembar rujukan untuk
poliklinik rehabilitasi medik. Kemudian saya ke apotik untuk ambil obat.
Sepanjang perjalanan pulang saya banyak merenungi diagnosa psikiater tentang
Andra. Saya merasa Andra belum perlu minum obat-obatan tertentu. Sesampainya di
rumah obat itu simpan saja dan tidak saya minumkan ke Andra.
Minggu depannya saya dan Andra balik
lagi ke rumah sakit pusat tersebut. Pendaftaran klinik rehab medik untuk dewasa
dan anak-anak digabung sehingga ruang pendaftaran ramai sekali. Tapi ruang
terapinya berbeda lantai. Saat itu kami datang bertiga dengan ibu saya yang
sedang terapi syaraf kejepit disana. Ibu saya dipanggil lebih dulu untuk
terapinya, sedangkan kami masih menunggu lebih lama lagi di ruang pendaftaran
yang ada di lantai dasar gedung extension
gedung lama. Disitu saya mulai mengamati beberapa pasien lainnya. Ada anak-anak
dengan kesulitan berjalan yang sedang mencoba sepatu khusus untuk bantu berjalan.
Ruang pembuatannya ada di lantai yang sama dengan ruang pendaftaran. Tapi
kemudian saya mulai mengamati seorang anak perempuan usia berusia sekitar 8
tahun. Dia cantik dan berambut bagus. Begitu pun ibunya berpakaian bagus juga.
Tapi seperti ada sesuatu dengan anak itu. Saya terus mengamatinya hingga
akhirnya anak itu mendekati saya, tersenyum dan tangannya mulai meraba wajah
saya. Matanyanya memandang ke arah mata saya tapi tatapannya...kosong. ibu anak
tersebut pun segera meraihnya. Saya bertanya ke sang ibu, dia mengatakan kalau
IQ anaknya sangat rendah. Hingga kini saya tidak bisa melupakan tatapan mata
anak perempuan cantik tersebut.
saat kami untuk menunggu masuk ke ruang
periksa dokter rehab medik, di depan ruang periksa saya bertemu seorang ibu dan
anak gadisnya yang terus memakai masker dan diam saja. Tidak lama kemudian si
Ibu mulai bercerita ke saya kalau anak gadisnya ADHD dan dia bisa diam karena
minum obat penenang setiap hari, si Ibu juga bercerita kalau dia seorang orang
tua tunggal yang harus menafkahi dan mengurus dua anak. Di sudut yang lain saya
melihat tiga orang ibu usia baya menggendong anaknya masing-masing dengan kain
jarik yang usianya sudah bukan balita lagi. Mereka sedang bercanda mengenai
keadaan anak mereka. Dan seperti biasa Andra langsung menjelajahi ruangan lain.
Secara tidak sengaja kami masuk ke ruangan yang seperti tempat main anak-anak
di mall. Karena melihat banyak mainan kayu, Andra langsung mengambilnya dan
mulai bermain. Ada beberapa wanita muda dan anak-anak usia balita. Saya lalu
bertanya ke seorang wanita berkerudung. Rupanya dia seorang terapis dan mulai
menerangnya terapi yang dia lakukan serta kondisi anak-anak yang di ruangan
tersebut. Sekali lagi saya melihat keakraban ibu-ibu muda disitu, saling
bercanda mengenai keadaan anak mereka. Padahal kondisi fisik anak-anak tersebut
jauh dari kondisi anak normal, bahkan ada seorang anak yang mungkin usianya
sudah 4 tahunan tapi dia hanya berbaring saja.
Jam sudah menunjukan waktu makan siang
sudah lewat, saat Andra dipanggil masuk ke ruang periksa rehab medik. Ruang ini
juga seperti tempat main anak-anak. Disitu ada beberapa dokter muda yang sedang
memeriksa anak-anak lain. Andra kali di periksa oleh seorang dokter laki-laki
muda yang sepertinya sedang lelah mungkin karena sudah hampir jam setengah 2
masih ada saja pasien. Si dokter mulai bertanya ke saya dan andra. Dan..waktu
saya berkata belum meminumkan obat ke Andra dia mulai berbicara ke saya dengan
nada tinggi. Salah satunya perkataannya “Yang lebih tahu ibu atau saya? Kalau
ibu tidak meminumkan obat ke Andra, saya tidak bisa memberikan terapi !”. lalu
dia mulai menceramahi saya. Untungnya dia juga memberikan beberapa tips
bagaimana menangani Andra. Lalu dia memberikan setumpuk kertas yang isinya
hasil quetioner kondisi fisik dan psikologi seorang anak lain.
Sepulangnya ke rumah saya tidak juga
meminumkan obat yang diresepkan untuk Andra. Kalau saya pikir-pikir proses
diagnosa Andra mulai dari puskesmas, RSUD, RSUP, rujukan ke banyak poliklinik,
cukup merepotkan. Dari bulan maret ke bulan juni 2015. Apalagi saya belum sreg
kalau Andra harus minum obat. Saya jadi berniat untuk membawa andra terapi ke
klinik tumbuk kembang swasta saja. Walaupun begitu saya mendapatkan banyak
pelajaran dari proses yang merepotkan ini.
bersambung....
teks dan foto oleh malahayati




Comments